25 Langkah Panduan SEO Pemula

Panduan SEO #22: Faktor Ranking Berdasarkan Link

Link based analysis membentuk inti algoritma penilaian oleh mesin pencari, bahkan site based factors yang dijelaskan pada Panduan SEO pemula langkah 21 sebelumnya memperhitungkan tautan/link pada beberapa aspeknya.

Nah, saya tidak ingin terobsesi dengan urusan backlink, tapi tetap harus dijelaskan sepenting apa link-based factors ini terhadap posisi situs anda di mesin pencari.

Jadi bagaimana cara membangun tautan (link building) yang tepat? Silakan baca artikel Panduan SEO langkah #22 ini sampai habis.

1. Usia Tautan (Link Age)

Seiring dengan perkembangan teknologi, mesin-mesin pencari terus berupaya untuk menyaring konten spam dari halaman hasil pencarian (SERP – Search Engine Result Page) – (Panduan SEO langkah #8), salah satu caranya berdasarkan otoritas (authority) dan kualitas tautan dengan menilai link age. Apa itu link age? Yaitu sudah berapa lama sebuah link ditemukan oleh mesin pencari.

Ini terkait erat dengan penjelasan tentang Sandbox (Panduan SEO langkah #19). Situs-situs yang sudah online cukup lama dan mapan biasanya punya sifat berikut ini; tautan yang sudah ‘berumur’, halaman-halaman internal yang saling terkait, dan memiliki ‘gelar’ topical authority.

Mesin pencari menggunakan profil ini sebagai ukuran kepercayaan (trust). Bagi anda pelaku SEO, tautan berkualitas harus punya usia tertentu sebelum efeknya dapat dirasakan secara maksimal.

Aspek link age juga berkaitan dengan penilaian atas seberapa permanen tautan tersebut merujuk sumber lainnya. Suka atau tidak, tautan yang berumur diberi nilai lebih karena dianggap memiliki nilai rujukan jangka panjang – Perihal apakah link ini sebetulnya lupa dihapus oleh pemilik situs atau memang sengaja dipelihara, itu lain cerita.

2. Link Growth

Mesin pencari ‘memantau’ apakah tautan ke sebuah situs atau halaman web terus bertambah dalam suatu periode.

Sebuah website atau web page (sudah tahu bedanya kan?) yang terus mendapat link (dijadikan referensi) adalah indikasi kuat bahwa informasinya masih relevan dan berguna, ini kunci untuk mendapatkan otoritas di mata mesin pencari.

Mesin-mesin pencari sangat efektif dalam mengukur link growth dan dalam menganalisis apakah pola pertumbuhannya alami atau artifisial (buatan).

Sayangnya dengan sistem penilaian ini maka situs-situs populer akan terus mendapat tautan, sementara situs-situs yang kurang populer dan tidak banyak menawarkan nilai tambah tidak akan sesukses itu karena hanya sedikit orang yang menemukan dan menaut. Yang ‘kaya’ makin kaya dengan cepat, yang ‘miskin’ lama kayanya.

3. Anchor text pada tautan

Anchor text digunakan untuk ‘menjelaskan makna’ sebuah tautan – misal sebuah link ke halaman yang berisi review tentang headset Bluetooth, idealnya memiliki anchor text ‘Review headset Bluetooth’ atau ‘Bluetooth headset reviews’ kalau halaman tersebut in English.

Mesin pencari menggunakan anchor text untuk menilai topik tautan dari ‘penjelasan’ yang diberikan situs yang menaut. Tentu saja anchor text ini mudah dimanipulasi. Dugaan saya, untuk mengatasi kemungkinan manipulasi, mesin pencari membandingkan trust (terhadap web page dan website) dengan anchor text yang ditampilkan.

Maksudnya, mesin pencari bukan hanya melihat anchor text-nya, tapi juga konten yang mengelilingi tautan tersebut (relevansi) – dan sebetulnya relevansi konten ini lebih efektif dalam ‘menjelaskan’ link daripada anchor text link itu sendiri.

4. Topical authority halaman yang menaut

Seperti yang dijelaskan dalam artikel Panduan SEO pemula #21 tentang faktor-faktor penilaian mesin pencari pada sebuah situstopical authority ditentukan dengan mengevaluasi nilai keseluruhan yang merujuk ke sebuah halaman, baik dari lingkup topical community dan dari luar komunitas niche-nya.

Mendapat link dari halaman dengan topical authority yang sesuai dengan niche situs atau topik halaman web anda adalah cara yang sangat baik (walaupun lebih sulit) untuk memapankan otoritas situs atau halaman web anda dibandingkan dengan hanya mengandalkan PageRank/PR, meski PageRank berpengaruh juga (dan lebih gampang karena PageRank mudah dilihat).

5. Topical authority website yang menaungi webpage yang menaut

Intinya sama dengan poin sebelumnya, hanya, yang satu ini diterapkan pada keseluruhan website alih-alih pada satu halaman (webpage) tertentu.

6. Relevansi halaman yang menaut

Relevansi halaman yang menaut dinilai berdasarkan:

  • Konten halaman tersebut
  • Link profile halaman tersebut (untuk menentukan topik halaman tersebut).

Tautan dari halaman-halaman yang terkait lebih bernilai daripada halaman-halaman off-topic (misal halaman tentang wedding menaut ke halaman tentang cat food.

7. Relevansi situs yang menaungi halaman yang menaut

Sama, kecuali relevansi yang satu ini berlaku untuk website alih-alih webpage tertentu.

8. PageRank (PR) halaman yang menaut

PageRank halaman yang menaut punya pengaruh langsung terhadap nilai tautan yang dihasilkan halaman tersebut.

9. PageRank (PR) situs yang menaungi halaman yang menaut

Sama, kecuali PR yang satu ini berlaku untuk website alih-alih webpage tertentu.

10. Derajat referensi

Makhluk apa pula?? Sederhananya; tingkat kepercayaan/trust yang ‘diberikan’ mesin pencari pada sebuah tautan berdasarkan penggunaan tautan tersebut di sebuah halaman.

Masih belum jelas? Jadi begini, contoh menu navigasi. Link pada menu ini – yang biasanya mengarah ke halaman-halaman internal – tentu saja adalah komponen penting (susah kan kalo website ngga ada menu navigasinya), oleh karena itu tautan pada menu mendapat gelar trusted secara tersirat, walaupun tidak in-context atau ‘sesuai topik’.

Dibandingkan dengan daftar link pada sidebar biasanya tidak terlalu berharga kalau tidak ada konten editorial di sekitarnya yang memberi konteks. Alasannya karena tautan-tautan ini dipandang tidak punya fungsi penting pada sebuah situs.

In-context link adalah hal penting, tapi ada dua hal yang harus diperhatikan; (1) topical relevance dan (2) riwayat situs. Daftar tautan pada sidebar yang dianggap paling tidak bernilai tapi tercantum pada situs dengan sejarah tautan yang baik bisa diberi status ‘trusted‘, sebaliknya in-context link yang dianggap punya nilai terbesar tapi tercantum pada situs yang punya kebiasaan ‘asal nge-link’ bisa diabaikan sama sekali oleh mesin pencari (discounted).

Sekali lagi, perhatikan ‘cara bergaul’ situs anda.

11. Co-Citation

Co-citation adalah metode yang digunakan untuk menentukan kesamaan topik (topical similarity) antara dua item (dalam urusan SEO berarti dua webpage atau dua website).

Misal, kalau A dan B dikutip oleh C, maka A dan B ini dianggap terkait meskipun tidak saling menaut secara langsung. Kalau A dan B dikutip oleh lebih banyak halaman/situs (X, Y, dan Z), maka relasi A dan B semakin kuat (bisa dianggap mirip). Kemiripan ini dimanfaatkan untuk menilai kualitas sebuah halaman/situs/sumber.

Banyak ya yang harus diperhatikan. Sekarang bagaimana semua itu mempengaruhi praktek link building anda?

In-context link memang penting, tapi ‘mencari’ situs yang biasa me-referensikan sumber-sumber yang punya otoritas dalam topik niche anda dan menghindari situs-situs yang tidak ada hubungan dan tidak punya otoritas juga sama pentingnya dalam upaya link building yang penuh seni ini.

Dengan kata lain, coba upayakan tautan dari situs-situs yang biasa menaut ke situs-situs utama pada niche anda.
Diskriminatif? Mungkin, tergantung niche-nya juga. Kalau kita bicara SEO, seperti inilah dunianya (saat ini).

Ok, sekarang kita punya pemahaman mendasar tentang cara kerja dan faktor-faktor penilaian utama mesin pencari, lanjut ke seluk beluk menjalankan kampanye SEO dalam artikel Panduan SEO pemula selanjutnya.


Selanjutnya: Panduan SEO #23: Kenapa Google Mengabaikan Anchor Text Pada Link?

Sebelumnya: Panduan SEO #21: Faktor Ranking Berdasarkan Reputasi Situs

Rating apa yang cocok menurut Anda?

Klik pada bintang!

Rerata rating / 5. Total vote:

Terima kasih atas rating positifnya...

Jangan lupa like dan follow kami juga ya. Terima kasih!

Maaf ulasan ini tidak berguna untuk Anda...

Akan kami perbaiki!